Senin, 15 April 2013

MAKALAH AYAM BANGKOK

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.  Latar belakang


                 Menurut Sudradjat (1994:9) mengatakan bahwa usaha ternak ayam tak ubahnya seperti mendirikan bangunan bertingkat, selain pondasi (anak ayam) harus baik, bangunan diatasnya (tata laksana) juga harus baik. Anak ayam yang baik bisa dipilih dari bibit unggul yang dijual tetapi tata laksana yang baik harus dipelajari, baik dari pengalaman maupun dari bacaan.
                 Tata laksana usaha ternak ayam meliputi pemeliharaan, pemakaian ransum yang baik, pengetahuan tentang penyakit, dan pelaksanaan ongkos produksi. Ongkos produksi diusahakan seminimal mungkin karena usaha ternak ini adalah usaha mencari keuntungan.
                 Karya tulis ini memberikan petunjuk-petunjuk praktis tata laksana fase layer, broiler, cara menyusun ransum, dan penyakit ayam yang perlu diketahui. Pengetahuan tata laksana pemeliharaan fase starter, grower, cara melakukan vaksinasi, dan tentang obat-obatan.

1.2    Tujuan Penulisan

1.2.1        Mengetahui mekanisme pelaksanaan program untuk bagaimana berternak ayam yang sehat serta produktif.
1.2.2        Mengetahui reaksi masyarakat terhadap pemberlakuan program berternak Ayam Bangkok.

1.3  Manfaat

1.3.1 Mendapatkan informasi secara langsung tentang program berternak Ayam
         Bangkok.
1.3.2. Memberikan informasi pada masyarakat dan memberikan himbauan
          kepada masyarakat untuk mengetahui cara berternak yang baik dan benar.



1.4. Pembatasan masalah

      Pembatasan masalah dari penelitian kita membahas tentang adanya :
1.4.1. Mekanisme pelaksanaan berternak
1.4.2. Reaksi terhadap pemberlakuan program berternak.

1.5. Rumusan Masalah

1.5.1. Bagaimana mekanisme program pelaksanaan berternak?
1.5.2. Bagaimana cara mencetak ayam aduan yang tangguh?

























BAB II
LANDASAN TEORI

2.1   Tujuan pengembangbiakan

1.      Menambah keanekaragaman ayam lokal

        Menurut DR.IR.M.Rasyaf (1991:13) yaitu dengan mengembangbiakkan ayam bangkok impor dan menyilangkannya dengan berbagai jenis ayam lokal yang berada di Indonesia, jelas hal ini akan memperkaya keanekaragaman ayam lokal di Indonesia.    Mengembangbiakkan ayam bangkok memang memerlukan kreativitas. Peternak yang kreatif tidak puas jika hanya berhasil mengembangbiakkan ayam bangkoknya. Peternak kreatif akan berupaya menyilangkan ayam bangkok dengan berbagai jenis ayam lokal unggul.           Pada akhirnya akan diperoleh berbagai jenis ayam baru hasil dari penyilangan. Suatu contoh, bagaimana hasil penyilangan antara ayam bangkok dengan ayam pelung, ayam kedu, atau ayam ciparage. Hal inilah yang belum mendapat perhatian serius dari penggemar ayam.
        Penulis yakin jika penyilangan tersebut banyak yang melaksanakannya, tak mustahil akan lahir jenis ayam-ayam baru yang bermutu tinggi. Dari hasil penyilangan tersebut besar kemungkinan akan muncul ayam petelur baru yang lebih produktif dari ayam petelur yang sudah ada, ayam pedaging baru, atau ayam hias baru. Hal ini jelas memberikan sumbangan yang positif dalam dunia perunggasan di Indonesia.

2.      Menambah jumlah populasi ayam
      Usaha mengembangbiakkan ayam bangkok perlu dilakukan. Tanpa dikembangbiakkan, besar kemungkinan ayam bangkok dalam negeri akan mengalami kepunahan sehingga kita akan menjadi pengimpor abadi ayam bangkok. Ini berarti pengeluaran devisa secara rutin.
      Jika kita dapat mengembangbiakkan ayam bangkok, baik melalui persilangan ataupun tidak, jumlah populasi ayam bangkok asli dan ayam bangkok blasteran akan segera meningkat.
3.      Meningkatkan pendapatan peternak

      Usaha berternak ayam bangkok merupakan salah satu usaha yang dapat meningkatkan pendapatan. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, usaha berternak ayam bangkok merupakan usaha yang prospektif karena permintaan terhadap ayam bangkok dari masyarakat tiap tahun meningkat.
       Dengan berkembangnya usaha beternak ayam bangkok, tidak hanya peternak ayam bangkok saja yang meningkat pendapatannya, tetapi juga para perajin sangkar, para penjual makanan ayam atau industri yang berkecimpung membuat pakan buatan, juga penjual obat-obatan unggas. Jadi, jelaslah usaha beternak ayam bangkok jika ditangani dengan serius akan memberikan manfaat rangkap bagi masyarakat.

2.2 Cara pengembangbiakan

            Keberhasilan mengembangbiakkan ayam bangkok – selain ditentukan oleh kemampuan peternak dalam memelihara dan merawat anak ayam yang berhasil ditetaskannya – juga ditentukan oleh kualitas induk. Tidak seperti beternak ayam kampung atau ayam potong, beternak ayam bangkok juga harus memperhatikan gaya bertarung ayam yang dipelihara.
            Bahkan, dalam memilih induk ayam bangkok, ada yang melihat silsilah atau asal-usulnya. Ini perlu karena sifat kedua induk akan diwariskan kepada keturunannya dengan perbandingan 50%:50%. Jago bangkok mantan juara biasanya dijadikan induk pejantan dengan harapan keturunannya kelak mewarisi bakat induknya.

1.      Memilih induk
            Untuk memilih induk ayam bangkok unggul yang akan dijodohkan, berikut ini ada hal-hal yang perlu diperhatikan.
a)      Memilih pejantan
     Pejantan unggul biasanya akan menghasilkan anak yang unggul pula. Suatu contoh pemilihan pejantan ayam bangkok secara gegabah, misalnya tubuhnya kecil, kakinya pengkor, dan umurnya sudah terlalu tua. Pejantan seperti ini tidak akan menurunkan keturunan yang berkualitas. Bahkan, daya tetes telur dengan pejantan seperti itu sangat rendah. Hal ini disebabkan kemampuan kawin dari pejantan seperti itu tergolong jelek. Untuk mengatasi kegagalan seperti itu, pemilihan pejantan harus betul-betul selektif.
     Berdasarkan pengalaman, berikut ini dijelaskan persyaratan-persyaratan apa yang harus diperhatikan peternak dalam memilih jago bangkok yang baik untuk dijadikan pejantan.
·         Kepala besar berbentuk bulat mamanjang atau lonjong, seperti buahØ pinang. 
·         Mata bersinar tajam dan letaknya agak tersembunyi sehingga memberiØ kesan sipit. 
·         Paruh panjang kuat dan kokoh, warna putih kekuning-kuningan, mempunyai alur memanjang dari ujung paruh ke arah lubang hidung. 
·         Jengger berbentuk blangkon atau sumpel dengan warna merah segar.
·         Leher besar panjang dan kokoh, ditumbuhi bulu-bulu pendek mengilat.
·         Badan bulat memanjang dengan dada bidang dan kekar.Ø  Sayap menempel ketat dengan bulu panjang, keras, dan kaku.Ø  Bulu ekor lebat, panjang, kaku, kuat, dan meruncing kebelakang sepertiØ lidi.  Warna kulit kuning kemerahan.
·          Seluruh warna bulu harus mengkilat, warna bulu yang kusam menunjukkanØ ayam kurang sehat. 
·         Berutu atau tunggir besar dan melekat erat dengan badan.
·          Supit harus keras dan berkedudukan rapat.
·          Paha besar, kaki panjang kuat berbentuk belimbing atau bulat dengan sisik menonjol tersusun teratur dan kering, serta jari-jari kaki kecil memanjang. 
·         Berat badannya minimum 3 kg, lebih berat lebih baik.
·         Berpenampilan gagah, kekar, dan energik. Cara berjalannya tegap danØ menampakkan kejantanannya. 
·         Rajin mencari makan di dalam kandang dengan mencakar-cakar tanah
·         Umur paling rendah 1,5 tahun. Jika anda mendapat ayam bangkok jantan yang memenuhi persyaratan tetapi umurnya masih muda, sebaiknya diambil saja karena ayam ini nantinya baik untuk pejantan.

b)     Memilih induk betina
     Untuk mendapatkan keturunan yang berkualitas, selain pejantan harus unggul, induk betina juga harus unggul. Menurut pengalaman penulis, kebersihan mendapatkan keturunan ayam bangkok unggul sekitar 50% ditentukan dari induk betinanya.
     Adapun ciri-ciri induk betina unggul sebagai berikut. 
·         Berperawakan tinggi besar dengan potongan punggung rata atau agakØ miring sedikit ke arah ekor. 
·         Bentuk kepala lonjong seperti buah pinang dengan mata bening bercahayaØ yang letaknya agak tersembunyi dan terkesan sipit, leher panjang dan berbulu. 
·         Warna kulit kemerah-merahan.
·          Bentuk dada bidang lebar dan kuat.
·          Kaki bulat atau berbentuk belimbing panjang kuat dengan sisik tersusunØ rapi dan kering serta tidak budukan. 
·         Bulu badan, sayap, dan bulu ekor lebat dan lemas serta berwarna hitamØ kumbang berkilat atau berwarna lain yang digemari.
·          Dubur lebar, bulat, dan basah. Kulit disekitar dubur tidak berkerut.
·         Umur paling tidak 10 bulan, ayam bangkok betina yang terlalu tuabiasanya sudah mandul atau tak dapat bertelur. 
·         Suka mengais-ngais atau mencakar-cakar tanah mencari makanan. 
·         Jika memungkinkan berasal dari keturunan jago bangkok unggul.
     Dengan memperhatikan kriteria-kriteria tersebut, diharapkan pemilik atau peternak memelihara ayam bangkok yang benar-benar unggul. Induk yang unggul membuat kemurnian jenis keturunannya tetap terjaga.
2.       Penjodohan Usaha
            Penjodohan dalam beternak ayam bangkok dimaksudkan untuk mendapatkan keturunan-keturunan yang berkualitas. Tanpa usaha penjodohan – induk betina bebas kawin dengan sembarang jago bangkok atau jago kampung yang diumbar di pekarangan – akan dihasilkan keturunan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan mutunya. Mungkin keturunan yang dihasilkan mempunyai sosok tubuh kecil seperti ayam kampung.
BAB III
PEMBAHASAN

3.1  Cara Pemeliharaan
     Kandang dan pemeliharaan merupakan satu kesatuan karena ayam bangkok tidak dapat hanya dikandangkan saja tanpa dipelihara. Atau sebaliknya, tak mungkin ayam bangkok dipelihara tanpa mempunyai kandang. Ayam bangkok yang dipelihara dan dikandangkan dengan asal-asalan jelas kurang mendatangkan manfaat bagi pemiliknya. Sebelum dibahas masalah perkandangan untuk ayam bangkok secara detil, terlebih dahulu akan diuraikan tentang pemeliharaan ayam bangkok.
     Keanekaragaman pemeliharaan ayam bangkok di pedesaan maupun di perkotaan dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.      Pemeliharaan ayam bangkok secara ektsensif (sederhana)
                        Pengertian pemeliharaan secara ekstensif ialah yang dibiarkan dilepas di alam bebas dan mencari makan sendiri. Dalam hal ini peternak juga tidak menyediakan dan tidak memberikan pakan secara rutin. Dari pagi hingga sore hari ayam bangkok tersebut berkeliaran mencari makan dan baru petang harinya pulang untuk tidur.
                        Pada malam hari, ayam bangkok tersebut dapat tidur di berbagai tempat. Ada yang bertengger di dahan-dahan pepohonan, di emperan rumah, di lumbung padi, bahkan ada yang tidur diatas genting. Dapat dikatakan pemilik ayam bangkok tersebut tidak ada perhatian sama sekali terhadap ayam peliharaannya. Di pedesaan-pedesaan, cara pemeliharaan ini masih bertahan hingga sekarang. Hal ini disebabkan lahan di pedesaan masih cukup luas sehingga memungkinkan sumber-sumber pakan masih melimpah di alam bebas. Bahkan, sering terjadi beberapa babon tersebut menghilang selama beberapa minggu dan waktu kembali pulang sudah bersama beberapa anaknya.
                        Paternak lalu mulai menangkap sebagian dari ayam bangkoknya dan dijual untuk membantu keperluan hidup sehari-hari. Ayam bangkok yang dihasilkan dalam pemeliharaan ini tentu sudah tidak asli lagi. Hal ini disebabkan ayam bangkok melakukan kawin silang dengan ayam kampung yang banyak berkeliaran di pekarangan tersebut. Jelas pemeliharaan secara ekstensif ini kurang memberikan hasil bagi peternak. Bahkan, sering kali ayam bangkok tersebut banyak yang mati karena serangan penyakit.
2.      Pemeliharaan ayam bangkok secara semiintensif (madya)
                        Pemeliharaan ayam bangkok secara semiintensif dapat dikatakan sudah lebih maju daripada pemeliharaan secara ekstensif. Pada pemeliharaan semiintensif ini peternak sudah menyediakan kandang dan memberikan pakan ala kadarnya, misalnya sisa-sisa makanan, jagung, menir, dan sebagainya. Jika ayam bangkok tersebut sakit, peternak berusaha mengobatinya. Di kampung-kampung biasanya pengobatan dilakukan secara tradisional. Jika ayam bangkok sakit dan tidak bergairah makan, biasanya peternak akan segera mengobatinya dengan bawang putih, kunyit yang ditumbuk, atau cabai merah yang dilolohkan tanpa dosis. Begitu juga jika kakinya luka karena bubul maka bagian yang sakit tersebut cukup dipopok atau ditempeli dengan apu (kapur sirih) yang dicampur dengan bubukan gambir atau abu. Pengobatan secara tradisional tersebut kadang-kadang dapat menyembuhkan, terutama jika penyakit ayam bangkok tersebut belum parah.
                        Hampir setiap peternak di kampung mempunyai resep pengobatan tradisional yang berbeda-beda, tetapi tujuannya sama yaitu untuk kesembuhan. Akan tetapi, ada juga sebagian pemilik ayam bangkok di desa yang enggan mengobati ayamnya. Justru ayam yang sakit tersebut dipotong untuk konsumsi sendiri atau dijual. Hal ini ada baiknya karena dapat mencegah penularan penyakit ke ayam-ayam dan kelak jago bangkok yang lain. Cara pemeliharaan semi intensif ini banyak dilakukan masyarakat desa dan kota sebagai pekerjaan sambilan. Selain itu usaha pemeliharaan ayam bangkok ini dapat memberikan tambahan pendapatan yang berarti bagi peternak.
3.      Pemeliharaan ayam bangkok secara intensif
                        Pada pemeliharaan ayam bangkok secara intensif dapat dikatakan bahwa hidup dan kehidupan dari ayam-ayam bangkok tersebut sangat ditentukan oleh peternak. Sejak dari pemeliharaan, pemberian pakan, perkawinan, dan penetasan sepenuhnya diatur oleh peternak. Biasanya pemeliharaan ayam bangkok secara intensif sepenuhnya ditujukan untuk usaha komersil. Pemeliharaan yang intensif ini biasanya mempunyai fasilitas pemeliharaan yang cukup memadai.
                        Di antaranya mempunyai perkandangan dan pakan yang baik serta air minumnya berkualitas tinggi. Dengan demikian, sarana tersebut dapat memenuhi syarat untuk mencapai tujuan produksi telur maupun pertumbuhan kutuk-kutuk ayam bangkok. Pada pemeliharaan secara intensif ini peternak dituntut dapat menguasai dan memahami teknik beternak unggas. Selain itu, peternak juga dituntut untuk melaksanakan pemeliharaan dengan penuh ketelitihan, kesabaran, dan ketekunan.
                        Dengan cara ini, gangguan-gangguan seperti serangan penyakit, serangan binatang malam, atau lingkungan yang tidak sehat dapat ditanggulangi dengan baik. Setelah diketahui ketiga cara pemeliharaan tersebut diatas maka dapat dipilih cara yang paling cocok diterapkan sesuai dengan kemampuan masing-masing peternak. Sebagai contoh jika peternak mempunyai lahan yang sempit dan tinggal di kota sebaiknya dipilh cara pemeliharaan intensif. Sebaliknya, jika peternak mempunyai lahan yang luas, tetapi ia mampunyai kesibukan lain yang lebih penting maka dapat dipilih cara pemeliharaan ekstensif atau semiintensif.
                        Jadi pemilihan cara pemeliharaan ternak ayam bangkok ini sepenuhnya ditentukan oleh peternak sendiri karena peternak sendirilah nanti yang akan melaksanakannya. Satu hal penting dalam beternak ayam bangkok ini adalah diupayakan agar keturunan ayam bangkok yang dihasilkan bersifat murni dengan kualitas yang baik.
3.2  Kiat Mencetak Ayam Aduan yang Tangguh
A.    Pakan Bergizi
            Diberikan Sejak dari Kutuk Untuk mendapatkan ayam aduan yang tangguh maka sejak kecil ayam bangkok harus diberi pakan yang cukup bergizi. Dengan diberikannya pakan yang bergizi diharapkan kutuk bangkok tersebut dapat tumbuh normal hingga dewasa dan tak pernah terserang penyakit. Dengan demikian setelah dewasa ayam bangkok jantan akan mempunyai bentuk tubuh yang kekar dan tegap, otot-otot yang kuat, tulang yang besar dan kuat, bulu-bulu yang subur dan mengkilat, serta mempunyai stamina dan daya tahan tubuh yang kuat. Selain diberi pakan yang bergizi, untuk mencetak ayam bangkok aduan yang tangguh juga diberikan perawatan khusus, kesabaran, dan ketekunan dari peternak.
1.      hal yang penting perlu diperhatikan adalah ayam yang dipelihara jangan sampai terserang wabah penyakit. Anak ayam bangkok yang pernah terserang penyakit tetelo maka setelah dewasa tidak dapat dijadikan ayam aduan karena sifatnya terganggu sehingga pandangannya tidak stabil. Selain dapat dibuat sendiri oleh peternak, saat itu pakan ayam bangkok buatan pabrik pun telah banyak tersedia di pasar-pasar burung atau di poultry shop.
2.      Menyisihkan beberapa ekor ayam bangkok jantan dan betina untuk dijadikan calon indukan, atau
3.      Menyeleksi ayam bangkok muda untuk disiapkan menjadi jago bangkok aduan. Khusus untuk menjadikan jago aduan, ayam bangkok muda tersebut harus dilatih fisik dan mentalnya secara teratur. Meskipun mempunyai perawakan tubuh yang tinggi besar, tetapi jika tidak dilatih ayam bangkok tersebut tidak mempunyai ketahanan fisik dan mental yang kuat jika dipaksa diadu, jago bangkok muda tersebut akan lari meninggalkan area aduan karena belum tahan sakit dan nyalinya kecil serta belum mempunyai pengalaman bertarung.
     Dalam melatih jago-jago bangkok muda ini pelatih tak dapat mengubah gaya solah bertarung. Misalnya ayam yang tadinya mempunyai teknik gaya bertarung gaya atas tidak dapat diubah menjadi teknik bertarung gaya bawah (asor) karena hal ini merupakan pembawaan yang diwarisi dari induk-induknya.
Adapun jenis latihan-latihan yang dipergunakan para pelatih sangat bervariasi. Setiap pelatih mempunyai kiat dan resep sendiri-sendiri dalam menangani ayam aduannya.












BAB IV
PENYAKIT DAN PENCEGAHANNYA

            Ayam jenis apapun pasti pernah sering terserang berbagai macam penyakit, pun demikian pada ayam bangkok berikut beberapa penyakit yang sering muncul pada ayam bangkok dan cara pencegahan serta pengobatannya :

A.    Penyakit Snot (Coryza)

Penyakit Snot atau coryza disebabkan oleh bakteri Haemophillus gallinarum. Penyakit Snot dapat menyerang semua umur ayam dan terutama menyerang anak ayam, biasanya penyakit ini muncul akibat adanya perubahan musim dan banyak ditemukan di daerah tropis. Perubahan musim biasanya akan mempengaruhi kesehatan ayam. Angka morbiditas kawanan unggas bervariasi antara 1-30%. Mortalitas atau Angka kematian yang ditimbulkan oleh penyakit ini mencapai 30%.

Pengobatan
Pengobatan penyakit snot pada unggas adalah dengan pemberian preparat sulfat seperti sulfadimethoxine atau sulfathiazole. Pemberian sulfonamida dapat dikombinasikan dengan tetrasiklin untuk mengobati coryza dan dapat diberikan melalui air minum atau disuntikkan secara intramuskular. Perhatikan withdrawal time pada ayam petelur karena obat tersebut dapat mengkontaminasi telur dan kualitas dari kerabang telur.

B. Penyakit Ngorok atau Chronic Respiratory Disease (CRD)

Penyakit Ngorok biasa juga disebut dengan Chronic Respiratory Disease (CRD) atau mikoplasmosis atau Sinusitis atau Air Sac. Penyakit Chronic Respiratory Disease disebabkan oleh bakteri Mycoplasma galisepticum. Biasanya menyerang ayam pada usia 4-9 minggu. Penularan terjadi melalui kontak langsung, peralatan kandang, tempat makan dan minum, manusia, telur tetas atau DOC yang terinfeksi.
Faktor predisposisi atau faktor pendukung
- Kondisi kandang yang lembab
- Kepadatan kandang yang terlalu tinggi
- Litter yang kering
- Kadar amonia yang tinggi.

Pengobatan
Pengobatan CRD pada ayam yang sakit dapat diberikan baytrit 10% peroral, mycomas dengan dosis 0.5 ml/L air minum, tetraclorin secara oral atau bacytracyn yang diberikan pada air minum.

C. Penyakit Berak Kapur atau Pullorum

Pullorum merupakan penyakit menular pada ayam yang dikenal dengan nama berak putih atau berak kapur (Bacilary White Diarrhea= BWD). Penyakit ini menimbulkan mortalitas yang sangat tinggi pada anak ayam umur 1-10 hari. Selain ayam, penyakit ini juga menyerang unggas lain seperti kalkun, puyuh, merpati, beberapa burung liar. Pullorum atau Berak kapur disebabkan oleh bakteri salmonella pullorum dan bakteri gram negatif. Bakteri ini mampu bertahan ditanah selama 1 tahun
Di Indonesia penyakit pullorum merupakan penyakit menular yang sering ditemui. Meskipun segala umur ayam bisa terserang pullorum tapi angka kematian tertinggi terjadi pada anak ayam yang baru menetas. Angka morbiditas pada anak ayam sering mencapai lebih dari 40% sedangkan angka mortalitas atau angka kematian dapat mencapai 85%.

Pengobatan
Pengobatan Berak Kapur dilakukan dengan menyuntikkan antibiotik seperti furozolidon, coccilin, neo terramycin, tetra atau mycomas di dada ayam. Obat-obatan ini hanya efektif untuk pencegahan kematian anak ayam, tapi tidak dapat menghilangkan infeksi penyakit tersebut. Sebaiknya ayam yang terserang dimusnahkan untuk menghilangkan karier yang bersifat kronis.









BAB IV
PENUTUP

4.1  Kesimpulan

            Dari hasil pengamatan kami, tujuan pengembangbiakan ayam bangkok bahwa:
4.1.1.   Dari sekian banyak orang yang telah melakukan pengembangbiakkan ayam
            bangkok, banyak orang yang telah berhasil walaupun terkadang mengalami
            kegagalan. Karena kegagalan merupakan awal dari keberhasilan seseorang.
4.1.2.   Sebagai siswa seharusnya kita ikut melestarikan budidaya beternak ayam
            bangkok karena ayam bangkok mempunyai kelebihan tersendiri. Jangan lupa,
            kalau menjodohkan ayam bangkok kita harus melihat induknya. Kalau        induknya bagus maka akan diperoleh keturunan yang berkualitas.

4.2. Saran

4.2.1.   Agar para siswa mengetahui bagaimana cara beternak ayam bangkok dengan
            baik.
4.2.2.   Apabila jika tidak ingin ayam bangkok punah, maka seharusnya kita ikut
            melestarikannya.














DAFTAR PUSTAKA

Sudradjat. 1994. Ayam Bangkok. Jakarta : P.T. Penebar Swadaya
Rasyaf, M. 1991. Ayam Lokal. Bogor : KanisiusØ  Redaksi Argo Media. 2003. Mencetak Ayam Aduan Unggul. Jakarta : P.T.Ø Argo Media Pustaka



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar